Header Ads

The 10: A Ranking of the Most Influential Book in My History (Part 1)

Pernah dengar buku berjudul The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History? Itu loh, buku yang menjelaskan 100 tokoh paling berpengaruh versi Michael Hart, yang menempatkan Rasulullah SAW sebagai orang nomor 1 paling berpengaruh di dunia. Keren kan Nabi gue? :D

Tapi di sini gue bukan mau bahas tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia. Bahas buku itu pun tidak. Gue cuma mau memenuhi tantangan temen gue yang paling gaje (sebutin namanya gak, nih?) buat nulis tentang buku-buku yang membawa pengaruh dalam hidup gue setelah gue baca tulisan dia di blog dengan tema yang sama. Kayak jaman Friendster dulu aja, kalo habis baca dan di-tag, harus ganti nulis. :v

However, it's okay, kok. Apalagi di biodata-biodata kader di wajihah gue di kampus sering banget minta gue ngisi daftar buku yang paling berpengaruh dalam hidup gue. Kalo penasaran, monggo lanjut baca, kalo udah bosen duluan, silakan baca-baca tulisan lain di blog gue. :D


1. Al Qur'an

Cieeh, yang bener? Bukan gara-gara biar kelihatan sholeh aja kan?

Semoga sih nggak. Dulu gue pernah dikasih Al Qur'an sama salah satu guru gue sebagai kenang-kenangan, dan entah kenapa waktu gue baca terjemahannya, untuk pertama kalinya gue ngerasa seperti lagi baca novel, dalam artian bacanya tuh enak banget, nggak bosenin seperti yang gue rasakan sebelum-sebelumnya. Pas gue udah lebih gede, ibu gue pernah nyampaiin materi, yang kurang lebih isinya gini, "Kalau untuk menghafal, saya yakin kalian sudah lebih menguasai dari saya. Tapi sudah pernah khatamkan terjemahannya belum?"

Yap, memang membaca Al Qur'an dengan bahasa aslinya, alias tilawah, menjadi ibadah tersendiri buat kaum muslimin. Pahala yang didapat bukan atas bacaan satu juz, satu surat, atau satu ayat, tapi satu huruf. Buat menghafalnya pun juga ada pahalanya sendiri. Tapi, kalau kita cuma baca dan hafal, gimana kita bisa ngerti apa yang ingin Allah sampaikan pada kita? Okelah, sekarang udah ada buku tafsir dan sebagainya, tapi untuk memastikan bahwa kita nggak salah baca tafsir, salah satunya adalah dengan membaca sendiri terjemahannya. Di samping itu, tahu terjemahannya seringkali bisa membantu kita buat menghafalnya lho....

Sebetulnya satu hal yang "menghambat" gue memenuhi target kuantitatif baca Qur'an tiap periodenya: gue bakal tergoda pengin tahu artinya, habis itu keasyikan baca terjemahannya, walhasil pas tugas lain udah menunggu, target gue belum terpenuhi. That's why, setiap Ramadhan, gue menyediakan satu mushaf khusus yang layout-nya standar Indonesia (yang cuma 8 lembar tiap juz, sementara standar internasional 10 lembar tiap juz), dan tanpa terjemahan.

Dan kenapa Al Qur'an memengaruhi hidup gue? Ya jelas dong, kalau nggak, ngapain gue bisa ber-Islam gini. Gue pakai jilbab, karena jelas-jelas di Al Qur'an, Allah memerintahkan muslimah untuk berjilbab. Gue bersaksi bahwa Allah itu satu-satunya Illah, karena Al Qur'an berkata demikian, dan selanjutnya didukung ayat-ayat kauniyah-Nya.

Memang sih, gue belum sepenuhnya sesuai dengan seluruh tuntunan dan tuntutan dalam Al Qur'an, tapi bukan berarti gue nggak berniat dan berproses menuju ke sana kan? Doakan aja semoga gue istiqomah.


2. Serial Akta

Serial ini ditulis oleh Mbak Jazimah Al Muhyi. Sejauh yang gue tahu, baru ada tiga seri, dua yang pertama berjudul Kelelawar Wibeng dan Gendut Oke, Hitam.... Buku pertama gue dapet sebagai hadiah ortu untuk milad gue ke-12, di akhir kelas 6 SD. Buku kedua, gue "temukan" beberapa waktu setelahnya di salah satu sudut rumah gue.

Serial ini bercerita tentang gadis pesantren bernama Akta, dan memiliki peluang amat besar untuk bersekolah di SMA negeri favorit di kota tempat pesantrennya berada, tapi memilih masuk SMA swasta yang terkenal "badung" demi berdakwah di sekolah itu. Berbagai pengalaman Akta dalam dakwah sekolah itu membentuk pemikiran gue tentang kondisi ideal dalam dakwah sekolah, yang gue niatkan bakal gue terapkan waktu gue masuk SMP negeri. Tapi takdir berkata gue harus pindah ke SMPIT, yang menjadikan gue belajar lebih banyak tentang tarbiyah, dan Serial Akta udah memberi gue dasar-dasar dalam tarbiyah. Serial Akta membentuk pemahaman gue tentang tarbiyah, tentang dakwah, termasuk tentang interaksi ikhwan-akhwat di tengah teman-teman ammah. Maka waktu gue SMP, gue membayangkan nuansa Akta dalam pesantren, yang membuat gue lebih mudah menerima idealisme yang disampaikan guru-guru SMP gue. Waktu gue SMA, gue berniat mengikuti jejak si Akta yang jadi aktivis rohis keren, walaupun nuansa SMA gue jelas beda jauh dengan gambaran Mbak Jazim dalam bukunya.

Satu hal lagi sisi diri gue yang dipengaruhi sama Serial Akta: ketika gue nulis, gaya bahasa gue jadi mirip banget dengan gaya tulisan Mbak Jazim, khususnya dari buku ini. Gue juga udah pernah ketemu sama Mbak Jazim, sempat wawancara sama dia buat mading SMP, dan ketika buku ketiga dari serial ini udah terbit, gue pesen langsung sama Mbak Jazim (walaupun agak telat juga gue dapet info terbitnya). Pas bukunya sampai di rumah gue, Mbak Jazim kasih sedikit catatan, kalau buku itu sebenernya bukti terbit dari penerbit buat dia sebagai penulis, dan dikasihin gue karena stok penjualan dia udah abis, hehehe.... Mbak Jazim juga menandatangani buku itu lho... Sayangnya, berhubung gue orangnya slebor, tuh buku sekarang entah di mana.... T_T


3. Rahasia Dua Hati

Kalau yang ini, Bu Maimon Herawati, atau dalam buku itu menggunakan nama pena Muthmainnah, yang menulisnya. Buku yang sebenarnya mengisahkan tentang cinta, tapi dibumbui dengan aktivitas-aktivitas lain sang tokoh utama sehingga nggak monoton. Dalam buku ini, Tita yang anak SMA di Padang jadi contact person untuk salah satu peserta pertukaran pelajar di sekolahnya: Harry dari Inggris tapi kuliah di Harvard. Bisa ditebak, keduanya saling jatuh cinta, tapi keduanya menyadari perbedaan yang tidak mungkin membuat mereka bersatu: Tita muslim, sedangkan Harry bukan. Sebelum pulang ke asalnya, Harry mengajak Tita tunangan, dan berjanji bahwa dia akan kembali dengan persamaan. Sementara itu, Tita melanjutkan kuliah di Unpad, dari yang gue tangkap dia belajar jurnalistik, meskipun gue nggak tahu itu nama jurusan atau sekadar peminatan dari jurusan Ilmu Komunikasi. Di sana Tita berkenalan dengan mentoring, dan mulai jadi perempuan yang hanif, meskipun tetap dengan gaya hidupnya yang biasa (tomboi dan supel). Ketika berkunjung ke rumah Harry di Inggris, Harry ternyata tinggal sendirian di sana, membuat Tita nggak nyaman, dan akhirnya mengajak Harry untuk segera menikah. Harry sendiri, jelas, akhirnya membuktikan keislamannya. Keduanya menikah, tapi hanya diketahui oleh mereka sendiri, orang tua Tita, dan beberapa muslim asal Pakistan yang membantu pernikahan mereka. Saat berkunjung ke rumah orang tua Harry, Tita mendapati keluarga Harry ternyata konglomerat terpandang, yang mengusulkan menyelenggarakan pesta pertunangan mereka. Meskipun tidak nyaman dengan gaya hidup keluarga Harry, Tita menerima usulan tersebut. Tapi ada insiden di tengah pesta itu, yang membuat Tita akhirnya meninggalkan Harry. Sesampainya di Indonesia, Tita mulai berusaha memperbaiki diri dengan memakai jilbab. Tita menyelesaikan kuliahnya, dan langsung ditawari membantu mengajar di salah satu kampus di Padang, tempat asalnya. Selama lima tahun berikutnya, di samping menjadi dosen, dia mendirikan lembaga pendidikan bahasa asing bersama teman-teman AFS-nya, dan media cetak tentang budaya Minang. Dalam kesuksesan itu, Tita mendapat kabar kalau Harry kritis setelah mengalami kecelakaan. Meski mereka udah pisah 5 tahun, tapi belum ada kata talak dari Harry, maka Tita pun terbang ke Inggris menemui suaminya. Dia akhirnya tahu bahwa Harry masih mencintainya, bahkan terobsesi padanya, sementara setelah Harry kecelakaan, keluarganya akhirnya tahu bahwa keduanya sudah dan masih menikah. Keluarga Harry juga akhirnya mendapati bahwa insiden yang memisahkan mereka ternyata dirancang oleh seseorang, yang membuat Tita menyesal telah meninggalkannya. Ending-nya, ketika Tita sudah pasrah kalau memang Harry harus mati, ternyata Harry justru sadar dari komanya. Udah gitu aja.

Sebenernya masih ada kelanjutannya sih, kalau nggak salah judulnya Perjalanan Dua Hati. Gue pengin pesen ini, tapi belum sempat sampai sekarang.

Nah, di mana ngaruhnya sama hidup gue?

Pertama, salah satu komunitas yang diikuti Tita adalah AFS, salah satu lembaga pertukaran pelajar internasional. Tita sendiri diceritakan pernah ikut pertukaran pelajar ke Jepang. Pas SMA-ku menyampaikan informasi pertukaran pelajar yang diadakan oleh AFS ini, gue langsung daftar. Alasan utamanya sih emang karena pengin ke luar negeri. Tapi alasan pendukungnya, gue pengin nyobain kayak Tita, maka gue milih Jepang sebagai destinasi. Hehehe....

Kedua, seperti yang udah gue jelasin di atas, tanpa tahu nama jurusannya, gue tahu kalo Tita belajar jurnalistik di bangku kuliah. Pas gue kelas 3 SMA, gue sempat serius mempertimbangkan milih jurnalistik buat kuliah, terinspirasi dari jurusan yang diambil Tita, selain karena emang gue juga udah suka jurnalistik sejak SD. Tapi, pas gue nyari yang namanya jurusan jurnalistik, kagak ada, euy.... Adanya Ilmu Komunikasi. Gue pun akhirnya mendapati bahwa jurnalistik merupakan salah satu bidang peminatan di jurusan Ilmu Komunasi. Walhasil, waktu disuruh ibu gue buat nyoba SIMAK UI, gue ngambil Ilmu Komunikasi sebagai pilihan keempat. Yeah, UI emang menyediakan sampai 8 pilihan buat SIMAK, tapi untuk kelas reguler hanya boleh ambil 3 pilihan, dan tiga-tiganya udah gue isi dengan yang berhubungan dengan komputer dan matematika. So pasti pilihan keempat ini udah masuk kelas paralel. Gue pun lolos buat jurusan Ilmu Komunikasi UI, entah karena gue emang bisa ngerjain soal IPS-nya atau gara-gara kelas paralel emang lebih gampang dimasukin asal ada duit. Tapi ya itu, justru karena biaya kuliahnya mencapai 7-8 juta per semester, gue lebih milih Sistem Komputer meskipun "cuma" di Undip.


(to be continued...)


Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

2 comments:

  1. Mau dibikin berapa part ini?
    Keburu busuk gue, haha

    ReplyDelete
  2. tergantung seberapa panjang tulisan berikutnya :p
    ini niatnya jg dijadiin 1 bagian aja, tapi berhubung 3 buku aja udah setara sama 3 halaman ms word A4 Times New Roman 12pt spasi 1,5, jadi lanjutannya ntar aja yak...

    biar lu jg mantengin blog gw terus, jadi stat-nya nambah :p

    ReplyDelete

Powered by Blogger.