Header Ads

The 10: A Ranking of the Most Influential Book in My History (Part 2)

Well, yang kemarin penasaran sama buku-buku apa aja yang berpengaruh dalam hidup gue, sekarang bisa nikmati lagi serunya. :D Di tulisan sebelumnya, gue menyebutkan 3 peringkat teratas buku paling berpengaruh: Al Qur'an, Serial Akta, dan Rahasia Dua Hati. Tapi sebelumnya dimohon untuk bersiap-siap penasaran lagi, soalnya di sini gue bakal nulis beberapa tambahan doang, biar bacanya gak kepanjangan dan ente semua masih punya waktu buat menyelesaikan amanah hari ini. :)


4. Wartawan Cilik

Sebuah buku yang gue temukan di salah satu sudut rumah gue (perasaan barang-barang yang gue punya hasil "nemu" semua) ternyata memiliki cap Sekolah Dasar Negeri Gunungpati 01 Kecamatan Gunungpati Kotamadya Semarang Jawa Tengah. FYI, rumah eyang gue di Gunungpati emang persis di sebelahnya SD tersebut, bahkan sampai gue kecil ada semacam pintu kecil yang menghubungkan halaman rumah dengan halaman sekolah. Nggak tahu juga kenapa rumah eyang gue begitu istimewa hingga dihubungkan langsung dengan sekolah, meskipun eyang putri gue pernah jadi kepsek di SD itu, dan ibu gue beserta seluruh kakak-adiknya pernah mengeyam pendidikan di sana. Makanya jangan heran kalau buku di rumah gue bernuansa jadul dan punya cap serupa, entah gara-gara ibu gue bersaudara hobi banget baca sehingga buku-buku perpus SD-nya dibawa pulang dan belum dikembalikan sampai anak-anaknya bahkan udah masuk usia layak menikah (uhuk!).

Termasuk buku satu ini, yang ditulis oleh Nita Handyati dan diterbitkan oleh Depdikbud pada 1995, bahkan ada tulisannya "Milik Negara, Tidak Diperdagangkan" yang diikuti sederet nomor Inpres. Dengan tebal 55 halaman, buku ini menceritakan lima anak SD yang diamanahi jadi pengurus mading sekolah. Salah satu kendala yang mereka hadapi adalah ketiadaan dana untuk merenovasi papan mading yang mulai keropos, sementara mereka enggan untuk mengajukan permohonan dana begitu saja pada pihak sekolah. Mereka pun mendapat ide untuk menyusun karya-karya kiriman siswa-siswi lainnya dalam bentuk koran sekolah bernama Insani, sesuai nama sekolah mereka. Koran itu ternyata sukses besar, para siswa bersedia menyisihkan Rp200,00 dari uang sakunya untuk membeli koran, bahkan para guru mengizinkan siswa yang tidak punya uang untuk mengambil dari tabungan. Tetapi setelah beberapa lama antusiasme para siswa berkurang, karena isinya monoton puisi, gambar, dan cerpen kiriman siswa. Tim mading tadi mencoba inovasi dengan memperbaiki struktur redaksi mereka dan menambah rubrik wawancara, dengan narasumber pertama adalah guru-guru. Setelah naskah disusun, ternyata media tersebut lebih layak disebut majalah daripada koran. Tapi itu hanya memberi pengaruh pada harga yang menjadi Rp400,00 per eksemplar, dan minat para siswa terhadap majalah sekolah meningkat.

Gue pertama kali baca buku itu waktu kelas 3 SD. Setelah baca, gue iseng-iseng bikin kreasi majalah dari kertas HVS ditulis tangan, berisi profil temen-temen sekelas gue yang gue desain sebagus-bagusnya untuk ukuran bocah 8 tahun. Ternyata ibu gue lihat, dan mendorong gue untuk bikin koran mini beneran yang dijual ke temen-temen gue. Gue mencoba tantangan itu. Bermodal komputer dan selembar HVS, gue menyusun rubrik berita, puisi, humor, dan setelah di-print, gue tambahin komik buatan tangan (yang gambarnya super-duper jelek, berhubung gue nggak terlalu berbakat gambar). Gue fotokopi tuh koran yang gue namain Insani (jelas banget jiplak dari buku ini) sebanyak 10 lembar kertas buram, besoknya gue jual cepek ke temen-temen gue.

And, you know what, koran gue laris, sodara-sodara! Gue pun melanjutkan proyek koran itu, yang secara konsep terbitnya seminggu sekali, cuma realitanya kadang-kadang waktunya molor gara-gara gue rada moody. Gue nyari-nyari materi buat edisi selanjutnya, termasuk berita bahwa kelas gue waktu pelajaran olahraga bertanding melawan SD lain. Gue juga mulai terima kiriman karya, dengan imbalan beberapa biji permen buat yang karyanya dimuat, dan beberapa temen gue pun mengirimkan komik atau puisinya. Bahkan beberapa anak kelas 4 juga terlihat cukup berminat dengan koran baru gue. Hasilnya, gue punya sekotak penuh duit receh yang, meskipun kadang gue pakai jajan sepulang sekolah, tetap memiliki jumlah yang cukup besar tiap harinya. Terang aja, soalnya buat cetak edisi berikutnya, gue pakai duit ortu gue! Hahaha...

Aktivitas tersebut berlanjut sampai gue kelas 4 SD, walaupun intensitas terbitnya jadi lebih kecil. Tapi dalam masa itu, gue juga sempat wawancara guru-guru buat edisi menjelang ujian, sampai izin sama wali kelas buat gak ikut salah satu pelajaran. Meski gue bukan dari koran resmi sekolah, wali kelas gue ngizinin, malahan kemudian beliau membanggakan gue di depan seluruh kelas. Beliau juga menunjukkan koran gue, yang waktu itu gue putuskan untuk ganti nama jadi Istiqomah, sesuai nama sekolah gue. Sayangnya, koran (atau, kalau sekarang setelah gue paham, mungkin lebih tepat disebut buletin) edisi perdana Istiqomah itu adalah juga edisi terakhirnya. Setelah itu gue gak pernah bikin koran sekolah lagi. T_T

Ketertarikan gue terhadap jurnalistik pun berlanjut. Kelas 2 SMP gue menginisiasi mading sekolah dan sempat interview Justice Voice, kelas 3 SMP gue ikut ekskul Jurnalistik dan sempet interview Jazimah Al Muhyi. Tahun pertama di rohis SMA gue masuk Departemen Pers dan mewawancarai Shameel, orang Afrika Selatan yang belajar di Unnes. Di tahun itu pula gue memulai kembali penerbitan buletin rohis SMA, mulai dari cari materi, desain layout, sampai masukin ke percetakan sendiri. Semasa kuliah, gue dua kali ada di bidang pers KAMMI FT Undip. Well, bisa dibilang semua ini bermula habis gue baca buku ini.

*NB. Niatnya gue mau upload juga foto bukunya, cuma beberapa kamera yang ada lagi nggak bisa difungsikan. Yang penasaran sabar yaa... :D


5. SOP Kesekretariatan

SOP merupakan singkatan dari Standard Operational Procedure. Dua SOP Kesekretariatan yang ngaruh banget sama hidup gue adalah SOP Kesekretariatan BEM FT KM Undip 2011 dan Panduan Kestari KAMMI 2012 yang diterbitkan oleh PP KAMMI. Isinya sama-sama tentang hal-hal yang dibutuhkan oleh sekretaris, baik sekretaris umum maupun sekretaris departemen, dalam melaksanakan tugas-tugasnya, yang paling penting adalah struktur surat-menyurat, pembuatan proposal, dan LPJ.

FYI, semasa kuliah, posisi organisasi maupun kepanitiaan yang paling sering diamanahkan ke gue adalah sekretaris. Secara kumulatif, tercatat gue pernah jadi sekdep di 5 periode organisasi dan sekretaris di 10 (atau lebih?) kepanitiaan. Pastilah gue jadi butuh banget buku panduan kesekretariatan, soalnya yang namanya surat-menyurat itu urusannya ribet banget. Mungkin bahkan kadep-kadep atau ketupat-ketupat gue nggak begitu mempermasalahkan format surat, tapi kalau udah ketemu sama sekretaris utama organisasi atau birokrasi, detail-detail macam itu jadi penting banget. Apalagi gue orangnya emang sering gatel kalau lihat dokumen resmi yang dibuat acak-acakan, nggak sesuai kaidah EYD maupun struktur bahasa Indonesia baku, dan nggak seragam antara satu dokumen dengan dokumen lain dalam keperluan yang sama (misalnya, seringkali LPJ organisasi yang dibuat per departemen oleh para sekdepnya menggunakan format yang berbeda-beda, jadi kelihatannya wagu dan nggak rapi pas dijilid jadi satu).

Makanya, gue perhatian banget sama format yang ada di SOP, tiap bikin dokumen pasti sambil buka SOP. Nggak jarang juga ada beberapa hal yang gue masih nggak yakin karena nggak ada di SOP, trus gue tanyakan sama sekretaris utama organisasi, tuh sekretaris malah bingung. Hahaha...


(to be continued again...)


Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

2 comments:

  1. Udah kyk sinetron lu, bersambung terus, wuu

    tu kan apa gue bilang, they all drive you! haha

    btw, buku sop-nya boleh g dipinjem, sepertinya bagus :3

    ReplyDelete
  2. #gue 2x nyoba komen gagal melulu ya? ini yg ke3 :3

    "wkwkwk, habis kalo gak langsung di-post gitu, ntar bakal males lagi buat ngelanjutinnya... lagian biar yg baca jg gak sakit mata kepanjangen, total udah 5 halaman tuh sama yg kemarin :p

    gue kasih jg boleh... :p itu yg SOP KAMMI bentuknya e-book kok, kalo yg BEM udah entah di mana rimbanya -___- "

    ReplyDelete

Powered by Blogger.