Header Ads

Fotografer Alam Semesta

Adalah ide seorang kawan ibuku untuk memberikan cindera mata yang unik pada kerabatnya sepulang dari negeri seberang. Kebanyakan orang yang melancong akan memborong banyak barang dari tempat yang dikunjunginya sebagai oleh-oleh untuk orang-orang di sekitarnya, baik itu makanan maupun barang-barang lainnya. Tapi, si teman ibuku ini, sepulang dari kursus satu semesternya di Amerika, tidak membawa oleh-oleh sebanyak orang lazimnya. Oleh-olehnya bahkan sudah menanti di rumah.

Bagaimana bisa?

Pantai barat Lombok, foto tidak sengaja
yang, menurut ibu dan adikku, adalah foto terbaik
Jadi, selama di Amerika, dia mengambil gambar sebanyak-banyaknya yang bisa dikenali sebagai hal-hal yang berbau Amerika, lantas mengirimkannya kepada sang istri di rumah. Sang istri ini bertugas memesankan barang-barang seperti gelas dengan hiasan foto-foto yang diambil suaminya.

Praktis, tentu saja, mengingat banyak sekali souvenir suatu tempat yang sebetulnya bisa saja didapatkan di wilayah lain, atau justru dibuat di luar wilayah tersebut. Ibuku, misalnya, membawa oleh-oleh salah satunya dompet bermotif dolar yang setelah diteliti ternyata ada tulisannya, "Made in China." Lah, lantas apa bedanya dengan dompet-dompet yang dibeli di Indonesia, secara fungsional? Toh, orang yang diberi souvenir tersebut nggak akan mikir juga, kan, itu souvenir beneran beli di tempat yang dikunjungi si pelancong ini kan? Contoh saja, apakah orang-orang berpikir bahwa air zamzam yang dibawakan oleh orang yang baru pulang haji betul-betul dibeli si Haji atau Hajjah baru ini di Mekkah? Bisa jadi belinya di bandara Indonesia.

Inilah salah satu motivasiku memastikan diri membawa kamera saat mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Bali dan Lombok selama enam hari (kunjungan industrinya sih cuma dua hari, sisanya wisata dan perjalanannya sendiri). Aku juga yakin, barang-barang atau makanan yang dijual di pusat oleh-oleh di sana juga nggak jauh beda dengan yang ada di Semarang. Apa bedanya coba, gantungan kunci dari plastik atau kayu yang dibentuk kapal dengan tulisan Lombok yang dijual di Lombok sama di Semarang? Cuma beda tulisan doang. Trus kalau beli bolpen yang ada tulisan "Bali"-nya, tintanya transparan atau sama aja dengan bolpen merk St*nd*rd  harga seribuan?



Beberapa desain gantungan kunci dengan latar belakang foto KKL

Berhubung modalku juga pas-pasan, aku berniat memotret pemandangan unik selama perjalanan wisata itu, lantas mendesain gantungan kunci atau pin berlatar belakang foto itu. Jadi, aku bawa kamera tujuannya untuk membawakan oleh-oleh bagi orang-orang terdekatku yang ada di Semarang. Walhasil, jika dibandingkan dengan foto pemandangan itu, foto-foto manusia di kameraku (yang merekam aktivitas KKL dan wisata itu sendiri) amat sedikit.


 Beberapa desain gantungan kunci dengan latar belakang foto KKL

Sebagai fotografer amatir yang ngaku pecinta fotografi, aku memotret apa saja yang menurut pandangan mata kepalaku cukup bagus. Dari pohon-pohon dan sawah di pinggir jalan (meski termasuk pemandangan umum, jarang banget di Semarang bisa lihat sawah seindah yang kutemui selama perjalanan), pantai (jelas), sampai bangunan-bangunan di Bali dan Lombok (yang sebetulnya juga mirip-mirip di Semarang, kecuali beberapa bentuk pura yang khas di sana).


 Pemandangan sepanjang jalan Jawa Timur

Maka, sepanjang perjalanan, aku menajamkan mata melihat pemandangan luar jendela (secara tidak kebetulan, aku duduk di sebelah jendela). Dan ternyata, masya Allah, hamparan pemandangannya luar biasa. Sekadar pohon kelapa saja bisa membuatku berdecak kagum, di samping menggumamkan tasbih. Sawah-sawah terbentang seolah ingin mengingatkan bahwa Allah Mahaluas kuasa-Nya. Jalan setapak yang lurus menjadi dalil aqli untuk senantiasa pada jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah. Itu baru sepanjang perjalanan di Jawa Timur.

Pantai barat Lombok
Ketika melintasi jalan bagian barat Lombok, siapa pun akan kehabisan kata untuk menceritakan ketakjubannya. Lukisan dari pelukis terhebat pun takkan mampu menggetarkan hati seperti halnya "lukisan" Allah ini. Jika saja setiap kegiatan tadabur alam dilaksanakan di sini (mengingat setiap kegiatan tadabur alam yang kuikuti menyasar gunung sebagai tujuan), tak perlulah ada materi yang disampaikan. Keagungan Allah sudah menyelusup ke setiap hati orang yang memandang laut itu. Seandainya manusia tidak berkewajiban berdakwah kepada yang lain, cukuplah hidup ini dihabiskan dengan duduk memandang hamparan laut itu, merasakan kerdilnya diri ketika shalat di tengah luasnya semesta, mengkhatamkan Al Qur'an dalam sehari dengan penuh penghayatan, melafalkan semua dzikir yang Rasulullah ajarkan.

Pada mulanya, aku berusaha memotret setiap scene yang kulewati. Tapi, saking bagusnya pemandangan di sana, aku sampai merekamnya dengan video agar tidak melewatkan sedikit pun momen berharga itu. Sayangnya, memori kamera sudah penuh hingga tak bisa merekam lebih banyak lagi. Aku kembali dengan aktvitas memotret seperti biasa.


Sepanjang jalan pantai barat Lombok

Ngomong-ngomong, tujuan lainku memotret semua itu di samping sebagai souvenir adalah menjadikan pemandangan itu sebagai desktop background di laptop, hehe... Kan unik kalau pemandangan yang jadi latar belakang itu hasil jepretan sendiri, bukan hasil googling.

Jadi, selama enam hari, aku berusaha membidik objek-objek dari sudut pandang tertentu. Ada batang pohon berlatar belakang langit, bunga, awan, daun, dan hal-hal semacam itu. Ketika cahaya dari benda-benda itu tertangkap retina, sel-sel yang menuju otak memberitahuku bahwa semua itu indah sekali. Bahkan setelah kembali ke Semarang, mataku membidik pohon-pohon di jalanan, berpikir bahwa jika dibidik dengan tepat, bisa menjadi background yang bagus. Ternyata, Semarang pun memiliki alam yang tak kalah bagus dengan Lombok, hanya saja kurang dirawat.

Salah satu rumah makan di Jawa Timur dan sunset di Tuban yang diambil dalam perjalanan pulang

Ketika memindahkan foto-foto dari memory card ke laptop bersama adikku, dia berkomentar, "Ngapain, sih, Mbak, cuma motoin daun-daun gitu?"  Juga beberapa viewer dari foto-foto itu yang sebagiannya di-upload ke jejaring sosial, komentarnya tak jauh beda.

Aku juga heran sendiri, waktu aku lihat aslinya, tampaknya luar biasa indah. Tapi hasilnya tak sebaik yang kuharapkan. Memang sih, ada juga satu-dua foto yang lebih bagus dari perkiraan. Bahkan ada satu foto yang aku sendiri tidak ingat prosesnya memotret, tapi dikomentari adikku, "Beneran, ini kayak dari Google aja!" Dan tujuan awalku menjadikannya desktop background terpenuhi olehnya. Hehe..

Sawah di Bali yang diambil dari dalam bus.
Terlihat bekas air di kaca bus.
Well, perlu diketahui bahwa aku memotret hanya dengan kamera digital biasa (jelas amatir banget dibandingkan teman-temanku yang bermodal SLR). Mungkin itu salah satu faktor yang menyebabkan kualitas fotonya kurang bagus. Lagipula, banyak pemandangan yang aku potret dari jendela bus, jadi mungkin kaca jendela menjadikan gambarnya kurang jelas. Atau kecepatan bus yang membuat gambar kurang fokus. Aku masih harus banyak belajar dalam hal fotografi.

Maka aku mendapatkan hikmah yang lebih mengena dibandingkan segala jenis tafakur alam yang pernah kuikuti. Aku menyaksikan sendiri, betapa indah segala sesuatu di alam semesta ini sesungguhnya. Hanya saja, seringkali kita menggunakan "kamera" yang salah untuk menangkap setiap apa yang tampak di hadapan kita. Mungkin lensanya kotor, fokusnya kurang tepat, atau kualitas pikselnya terlalu kecil. Bisa juga kita belum memiliki ilmu tepat untuk bisa menentukan sudut pandang terbaik melihat  atau faktor-faktor lain yang membuat kita melihatnya secara berbeda dengan kenyataannya.

Yang mengingatkanku pada taujih seorang guruku, "Believe that everything has their own beauty, but not everyone sees it."

Sore hari di Pantai Kuta

No comments

Powered by Blogger.