Header Ads

Aku Ingin Sekali Berkata, "Sami'tu wa Atho'tu..." [Pelajaran Lain tentang Keikhlasan]

Ketika menyerahkan diri pada dakwah, satu hal yang aku inginkan terjadi pada diri sendiri: ikhlas. Ikhlas meniatkan berjuang karena Allah, di tempat mana pun jamaah memberiku amanah. Poin terakhir, ikhlas berada di mana pun amanah itu diberikan, merupakan hal yang baru bagiku, sebab sebelumnya aku selalu bisa memilih mau mengarahkan minatku ke mana. Ya, hanya berdasarkan minat, belum begitu memikirkan kebutuhan.

Pertama kali ditempatkan di sana, aku sempat ragu... bisakah aku menjalankan amanah itu di sana? Amanah yang menuntutku untuk menyesuaikan diri di tempat yang sejak dulu kusadari menjadi tempat yang termasuk paling berat dalam komunitas ini. Berbulan-bulan aku berusaha menghayati peranku di sana, sampai akhirnya aku betul-betul merasa betah di dalamnya. Aku menjadi sangat nyaman di sana.

Dan ketika aku tahu kenyataan itu, dunia seolah runtuh. Haha, terlalu lebay memang perumpamaan itu. Toh pada kenyataannya, aku tidak sampai merasakan kecewa seperti ketika aku hampir saja dipindahkan dari tempat yang sebetulnya kuminati. Yeah, waktu itu aku sudah mengalami "diusir" dari minatku sendiri, hanya karena aku dibutuhkan di tempat lain, atau karena harus mengorbankan orang lain untuk memberiku sebuah tempat. Meski pada akhirnya aku diizinkan Allah untuk mengekspresikan apa yang menjadi kecenderunganku, waktu hampir dua bulan itu menjadi waktu bagiku untuk berusaha ikhlas jika aku memang harus berjuang di tempat lain. Kupikir aku sudah lulus ujian keikhlasan dengan usaha untuk menerima apa yang diberikan padaku.

Tapi ternyata, mungkin Allah belum meluluskanku. Mungkin aku masih harus remidi. Bukan, kali ini bukan soal kecenderunganku yang memberatkanku, melainkan lebih pada kenyamanan yang sudah kuraih setelah proses selama berbulan-bulan ini. Ya, alasan yang sungguh kecil nyaris tak bernilai, kan? Bahkan aku takut kalau kecenderunganku di sana sebetulnya sudah terkotori niatan lain, sehingga mungkin ini pula alasan Allah ingin menjauhkanku dari sana.

Aku faham "risiko" yang kuambil ketika menyerahkan diri pada dakwah ini. Pengorbanan perasaan mungkin adalah hal paling ringan yang bisa kuberikan, dibandingkan pengorbanan lain yang harus kuberikan di masa depan. Sungguh, aku tahu, aku faham tentang itu. Tapi kenapa sulit sekali untuk mengatakan, "Sami'tu wa atho'tu (saya mendengar dan saya taat)," dalam kenyataannya? Bahkan ada rasa jeri ketika teringat, mendengar, atau melihat apa yang pernah kucapai selama 6 bulan ini.

Ya Rabbi, aku ingin ikhlas...

* * *

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan,) "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya," dan mereka mengatakan, "Kami dengar dan kami ta'at." (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

Surah Al Baqarah, tiga ayat terakhir, yang sering dibaca di pagi hari... Semoga memberiku kekuatan...

No comments

Powered by Blogger.