Header Ads

Belajar Bersyukur Lewat UN


Sebelum UN, persiapan yang dilakukan untuk menghadapinya luar biasa sekali. Mulai dari jam tambahan tiap hari, pemadatan pas liburan, "menyita" pelajaran lain yang digunakan untuk pemadatan (lagi), istighosah yang (khusus tahun ini di sekolahku) gede-gedean (sampai pengisinya aja ngundang dari Jatim)... sehingga rasanya, dunia bakal kiamat kalau UN nggak lulus!

Walaupun diri ini sepenuhnya sadar, hidupku nggak mungkin berakhir hanya gara-gara nggak lulus UN, tetap saja hati ketar-ketir menghadapi ujian yang disebut-sebut sebagai tolok ukur mutu pendidikan di Indonesia. Tapi ya itu... biar kate disuruh nyak babe om tante buat belajar, kalau perlu jauh hari lembur-lemburan biar pas hari H bisa nyantai, tetap aja aku nekat tidur gasik, belajar santai banget...

Sehari sebelum UN (mumpung dapat 100 bonus SMS dari simPATI), aku kirim doa ke saudara-saudara seiman setanah air. Banyak banget yang doain aku...

Bu Ulfah (21 Maret, 20:16)
Amin, mudah2an yg trbaik u dlila. Subhanallah, waktu cpt bgt y, dah kls 3 sma. Met bljr.

Pakde Tomi (21 Maret, 22:36)
Ya kami sklg mendoakan smg semua berjalan lancar dan sukses.

Pakde Joko (21 Maret, 23:17)
Alaikum slm, iya Lil, selamat ber UAN besok ya, belajar baik2 dan berdoa ya, pak Dhe n bu Dhe doain smoga Lila dimudahkan Allah dlm UAN, dan lulus dg hasil yg baik.

Pak Gunawan (22 Maret, 03:48)
barakallahulakum smg Alloh memberi kemudahan dan senantiasa keberkahan menyertai dik lila. tetap smangat dan istiqomah...

Mbak Retno (22 Maret, 07:52)
Injih ndoro ayu.kulo do'akke mugi2 Allah SWT tansah maringi ptunjuk supados den ayu lila gampil ngerjakke UAN lan angsal nile ingkang sae.amin.

Pak Slam (22 Maret, 18:39)
Mba lila yg sholihah, pak Slamet doakn smoga kmudhan n klncran n kbrkhan menyertai hari2 ant. Sukses UN dan sukses2 yg lainnya. Jg syukur, dzikir, n ikhtiarnya.

Dan masih banyak doa-doa lain yang belum disertakan di sini. Jazakumullah khair, ya...

Hari pertama dalam ruang ujian---beneran!---aku nggak ngerasa kalau soal yang ada di meja depanku itu soal Ujian Nasional. Berasa try-out doang! Pun hari-hari selanjutnya... malah dengan santainya aku membatin, "Kerjakan aja yang bisa, sisanya ngarang, Orang ntar juga nilainya ditambah!"

Gubrax banget nggak sih?

Masya Allah, Lil...

Barulah mulai tegang pas menjelang pengumuman kelulusan. Apalagi pas ingat jawaban Matematika yang kukerjakan ternyata beda banyak dengan jawaban Isthi (biar beda sekolah kan soalnya tetep sama-sama A)! Apalagi pas acara-acara bersama baik Wasana Warsa untuk satu sekolahan, sampai dua kali foto katalog sekelas, masa udah perpisahan, udah dibuatin katalog, kok nggak lulus?

Kelulusan UN memang bukan segalanya, bukan sesuatu yang istimewa... tapi mungkin gengsi, harga diri yang tinggi yang membuatku begitu "gila" ingin lulus. Apa jadinya jika seorang Lila, aktivis Rohis ini, nggak lulus UN? Apa kata dunia?

Pagi hari kelulusan, temen-temen sekelas ngajakin foto katalog di Lerep. Baru pulang dengan selamat sampai rumah jam 12. Berusaha kulupakan bahwa waktu dua jam itu sangat lama dengan membuka komputer, main Flip Word. Banyak yang udah nanyain aku lulus apa enggak. Anna sama Isthi malah udah laporan kalau mereka lulus. Sementara pengumuman dari sekolahku jam dua! Allah...

Jam dua lebih empat menit, Bapakku nelepon, "Ruang kelasmu di mana?"

Njelimet aku jelaskan di mana kelasku berada. Deg-degan ini udah sampai klimaks. Aku bahkan udah nggak kuat menggerakkan mouse ataupun mencet keyboard komputer. Walhasil aku cuma bisa tergeletak di kasur sambil balesin SMS orang yang tanya-tanya kelulusanku, bosen ngasih jawaban kalau pengumuman masih nunggu. Sekadar mengurangi ketegangan.

Setengah tigaan, Bapakku SMS, "Ortunya temenmu ada yang pakai cadar. Ortunya siapa?"

"Temenku sekelas, kok. Namanya ........... Gimana? Lulus, nggak?"

Dan apa balasan Bapakku?

Hanya dua karakter, "O."

Tak tanya sekali lagi, malah nggak dibalas. Aduh, nggak tahu apa aku udah gemetar sampai 9 SR!

Pas Mbak Lilik bilang mau ke rumahku, aku langsung menyilakan. Lumayan, ada temen ngobrol, jadi nggak terlalu tegang.

Lagi asyik ngobrol, Bapakku pulang. Aku tanya, "Gimana?" cuma melengos, berlalu begitu saja di hadapan kami berdua. Kutinggal Mbak Lilik sendiri di ruang tamu untuk mengejar Bapakku. Malah Bapakku sok nggak tahu gitu.

"Pengumuman apa?"

Payyyyaaaaahhhh!!! Emangnya Bapak ke sekolah ngapain, Pak?

"Punyamu nggak lulus satu," kata Bapakku cuek.

Deg. What? Aku nggak lulus?

"Lha kamu optimis, nggak?"

"Yah, hasilnya mana? Lihat, dong!" aku maksa.

Dengan santainya, tanpa emosi apa pun, Bapakku mengambil amplop yang pinggirnya sudah sobek dari tasnya. Gemetar kubuka amplop itu. Di dalamnya ada surat wasiat... hahaha.



Alhamdulillah... Allahu akbar!

Tahu nggak... biasanya kalau ada Ibuku, langsung kupeluk beliau. Tapi nih Bapakku nggak ekspresif banget. Lihat kata "LULUS" di kertas itu diam aja. Lihat aku bilang, "Alhamdulillah," nggak merespon apa-apa. Mau kupeluk juga... wahahahahahaha...

Allah-ku, terima kasih... Syukurku harus melebihi pengharapanku ketika menjelang UN dan pengumuman kelulusan ini. Iya dong, masa pas berdoa kuat banget, tapi pas udah dikabulkan bersyukurnya pelit amat? Lagipula, siapa juga yang bilang aku, dan teman-teman yang lain, bisa lulus karena doa kami?

Dengan gembira kukabarkan pada semua orang yang pernah kuminta doanya. Sampai untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku bisa menghabiskan 100 bonus SMS yang kuperoleh, bahkan sampai kurang!

Bu Puji (26 April, 16:33)
Barakallah ukh. Afwan tadi Bu Puji mau SMS. Tanya kabar. Tapi badannya lemes banget. Yang lain sukses juga kan?

Bu Maya (26 April, 16:38)
Barokallah... Semoga menjadi jalan menuju amal dakwah berikutnya...

Bu Isti (26 April, 16:38)
Barakallah ya dek.

Bu Yuli (26 April, 16:44)
Barakallah ya... Smeoga pendidikan ke depannya juga diberkahi Allah.

Bu Yupik (26 April, 16:47)
Allohu Akbar walillahil khamdu. Barakalloh Lila, moga dapat sekolah lagi yang bermanfaat.

Mbak Nana (26 April, 16:49)
Barakallah Ukht, semoga Allah memberikan kemudahan untuk urusan yang selanjutnya.

Anna (26 April,  16:49)
Alhamdulillah... :D

Pak Munib (26 April, 16:49)
Alhamdulillah. Ke mana selanjutnya? Teman-teman yang lain bagaimana?

Pakde Joko (26 April, 16:49)
He... he... Selamat ya. Arep kuliah ning endi Lil...

Om Amir (26 April, 16:55)
Alhamdulillah. Tetaplah SEMANGAT! Sebab jalan dakwah ini masih manjang penuh onak dan duri. Lila yang dulu kecil sekarang sudah melangkah dewasa... Tetaplah dalam lingkaran dakwah kita dengan halaqah yang rajin. Wahai muayyidah... Allahu Akbar 3x!

Mbak Anisa (26 April, 17:01)
Barakallah... Akhirnya mau kuliah di mana, nih?

Mbak SIlvi (26 April, 17:01)
Alhamdulillah... selamat ya, Dek... Akhirnya perjuangan selama ini berbuah manis juga... Udah diterima di mana, Dek?

Bulik Yuni (26 April, 17:03)
Alhamdulillah, barokallah. Semoga dapat melanjutkan ke Universitas yang terbaik buat Mbak Lila.

Mbak Yessi (26 April, 17:04)
Alhamdulillah... selamat ya, Dek... :-)

Mbak Rennytha (26 April, 17:17)
Alhamdulillah... Selamat ya, Dek...

Bu Sari (26 April, 17:20)
Barokallah ya Lil, semoga menjadi pintu gerbang untuk meraih mimpi.

Pak Tafsir (26 April, 17:24)
Alhamdulillah. Barakallah. Semoga jadi awal yang baik untuk merajut asa.

Bulik Rini (26 April, 17:25)
Ya, sayang. Selamat.

Pak Slam (26 April, 17:31)
Alhamdulillah kalau begitu...

Om Heri (26 April, 20:55)
Amin. Turut seneng Om dan Tante Lil. Mau nerusin di mana?

Pakde Tomi (26 April, 20:55)
Syukur alhamdulillah. Mas Bagus juga lulus dengan hasil baik. Bagaimana dengan Mbak Netty, ya?

Wiwid (26 April, 21:03)
Iya, sama-sama Mbak. Selamat ya, Mbak. Moga yang diinginkan tercapai dan keberhsilan untuk kita semua.

SMS-SMS yang lain tidak dapat ditampilkan mengingat keterbatasan tempat (nanti yang baca malah pusing sendiri). Pokoknya... aamiin buat semua doa, jazakumullah buat support saudara-saudaraku...

No comments

Powered by Blogger.