Header Ads

Balada KIDNET (BTS 1: Rekrutmen)


(BTS=Behind The Scene)

=======================================================

Bersama-sama membuat presentasi untuk mengenalkan Al Muharrik pada maba Siskom 2011, tiba-tiba Akh Hermawan mengarahkan topik pembicaraan terkait berbagai ide PKM yang ingin dia usulkan. Karena aku sebetulnya gak terlalu ngeh masalah karya ilmiah, aku manggut-manggut aja sambil tetap meneruskan presentasi itu. Termasuk ketika dia minta dikenalkan anak Psikologi untuk membuat proposal tentang internet untuk anak-anak.

"Ada tuh kenalan anak Psikologi," jawabku sambil membuka "mind browser" dan mengetikkan kata kunci "mahasiswa Psikologi Undip" di kepalaku. Muncul 2 hasil dalam waktu 0,1 detik. Temuan pertama, mahasiswi Psikologi Undip 2010 bernama Khusnul, yang wismanya di HI (belakang Tsabita). Hasil pencarian kedua merupakan mahasiswi Psikologi Undip 2007 bernama Aftina Nurul Husna, kakak kelasku di SMA, tapi waktu aku masuk, dia lulus.

Sambil berdoa nomor Khusnul belum berubah sejak perkenalan kami setahun sebelumnya (karena setelah itu memang jarang kontak), aku menyilakan Akh Hermawan menghubungi sendiri. Setelah Ashar, Akh Hermawan mengeluhkan SMS-nya yang tidak terkirim. Merasa bertanggung jawab, aku sempat missed call juga, dan operator menjawab, "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, bla bla bla..." Itu membuatku tenang, karena itu berarti nomornya belum berubah, meski sedang nonaktif.

Menjelang buka puasa (waktu itu Ramadhan), Akh Hermawan berkomentar, "Emangnya akhwat Kombes takut sama ikhwan Teknik, ya?"

"Mungkin. Padahal ikhwan Teknik sendiri takut sama akhwat Teknik," balasku tak mau kalah.

Bahkan dia bilang, saking SMS-nya gak dibalas, aku suruh SMS juga. Penasaran sama cara komunikasinya, aku minta di-forward-kan SMS permintaannya. Bikin ngakak juga: membayangkan aku jadi Khusnul, aku tidak akan menangkap maksud dari permohonan yang muter-muter itu.

Lama setelah itu (mungkin sampai sehari-dua hari berikutnya), baru aku bisa berkomunikasi dengan Khusnul, "Ukh, udah dihubungi temanku belum? Katanya dia mau ngajakin bikin PKM."

"Iya, dia udah hubungi, kok," jawab Khusnul.

Setelah itu, aku tak tahu mau membicarakan apa lagi dengannya. Malahan, aku merasa sudah menunaikan amanahku dengan menghubungkan dua orang itu.

Tapi, gak ada angin gak ada hujan, waktu ngumpul di PKM Teknik, Akh Hermawan bilang, "Antum ketua PKM-nya, ya."

"PKM apaan?!" tanyaku shock.

Dijelaskannya kembali rencana PKM-nya yang mengundang anak Psikologi itu.

"Lah, emangnya saya ikut?" kali ini ekspresinya polos bercampur sinis.

Kayaknya Akh Hermawan gregetan juga dengan kepolosanku. Wkwkwk.

"Ogah, saya gak mau jadi ketua!" sifat mujadilah (wanita yang mengajukan gugatan)-ku keluar. "Kenapa gak antum aja, toh antum yang punya ide!"

"Saya udah jadi ketua di tempat lain," nyerocoslah dia menyebutkan semua proposal PKM yang diajukannya. Banyak amat nih orang bikin PKM, batinku.

"Kenapa gak di tempat itu, yang lain aja yang jadi ketuanya? Orang antum yang punya ide, antum yang ngerti idenya, masa saya yang suruh jadi ketua!" aku ngotot.

"Di sana juga udah pada jadi ketua. Nih saya jelasin lagi idenya."

Jujur? Aku masih gak ngerti konsep yang bermain di kepalanya. Hehe, peace... V

But finally...

"Oke deh, saya jadi ketuanya, tapi di atas kertas aja! Riil-nya tetep antum!"

Rasanya seperti melihat sorot kemenangan pada ekspresi gerak "atasan" sekaligus "bawahan"-ku satu ini. Jadi aku masih ragu, dia menyepakati pernyataan sikapku barusan atau tidak.

Yang jelas, setelah aku syuro apa aku lupa, dia berinisiatif mengumpulkan timnya. Ternyata Khusnul jadi ikut (setelah sebelumnya kukira dia cuma mencarikan teman Psikologi untuk Akh Hermawan), dia mengajak seorang temannya yang bernama Putri. Melihat mereka berdua, aku jadi ngerasa ikhwan. Haha... habisnya mereka "akhwat" banget, mengingat sikap mereka dalam pertemuan perdana PKM ini yang memakai hijab!

Yeah, awalnya aku kaget juga dengan permintaan pembahasan dengan hijab. Berasa formal banget, mengingat biasanya diskusi masalah beginian dilaksanakan dalam situasi nonformal. Kayak syuro resmi aja jadinya. Padahal, di atas kertas, mas'ul-nya akhwat! Tapi dalam hal ini, aku menyerahkan sepenuhnya wewenangku pada sang penggagas ide. Hehe...

Dan yang aku baru tahu lagi, selain empat makhluk yang sudah diceritakan dari awal, satu personil lagi dalam tim ini: Taufik. Aduh, ini beneran hasil rekrutmen Akh Hermawan... Beneran, harusnya dia yang jadi ketuanya!

Pada awalnya, Akh Hermawan berusaha menjelaskan secara terperinci konsep yang dia miliki. Sebagai seorang visual-kinestetik, aku kesulitan memahami idenya hanya dengan mendengar, tanpa melihat bahasa tubuh pembicara, apalagi mengalami langsung idenya seperti apa. Tapi aku ber-ooh seolah ngerti, padahal gak sama sekali. Dan dilihat dari ekspresi serta pertanyaan-pertanyaan kritis kedua akhwat Psikologi, sepertinya mereka juga masih meraba-raba realisasi ide tersebut.

Lama sekali waktu yang dihabiskan hanya sekadar menemukan kesamaan pemahaman. Belum lagi perdebatan mengenai bidang PKM ini: Teknologi atau Kewirausahaan. Ujung-ujungnya? Diputuskan PKM ini masuk bidang Pengabdian Masyarakat! Sosial banget kan? Padahal selama ini aku paling menghindari ngurusin kegiatan berbau sosial-sosial gitu.

Dalam pertemuan itu langsung bagi tugas bikin proposal. Akhwat Psikologi bagian pendahuluan, sisanya kami bertiga (lupa job desk-nya gimana). Oh iya, termasuk PJ nyari dosen pembimbing adalah Psikologi, karena penginnya dosbing kami lebih ngerti tentang perkembangan psikologis objek.

Ternyata, pertemuan itu adalah pertemuan pertama dan terakhir kami dengan kehadiran 100% dalam proses pembuatan proposal. Selebihnya kami hanya komunikasi via SMS dan email. Bahkan FB pun tidak, karena aku gak tau nama FB dua akhwat itu. Nama lengkapnya aja aku belum tau.

Kinerjanya?

Duo akhwat melakukan job-nya dengan baik, Akh Hermawan pun demikian. Bahkan, ikhwan satu ini sudah membuat draft keseluruhan proposal, termasuk judul. Hanya mengosongkan bagian latar belakang, itu pun karena dia beranggapan anak Psikologi lebih ngerti kondisi anak-anak. Sementara aku... gak mudeng bikinnya kayak gimana (seriusan, gw paling males kalo suruh mengelaborasi masalah, lebih suka to the point), walhasil setelah kedua belah pihak mengumpulkan padaku, aku hanya menggabungkan, mengedit, dan menambah sedikit hasil karya mereka.

Seminggu sebelum batas pengumpulan proposal, ibuku minta mengoreksi proposalku. Saat itu baru diberi tahu, yang namanya PKM Pengabdian Masyarakat alias PKMM harus ada mitra pelaksanaannya. Semakin kocar-kacirlah kita, proposal aja belum bener seluruhnya, dosbing belum dapat, masih harus cari mitra. Untungnya ibuku langsung kasih solusi riil, coba ke SMIT Bina Amal, sekolahnya adikku.

Maka tak lama setelah itu aku dan kedua ikhwan survey ke Bina Amal. Dua akhwat Psikologi gak bisa ikut, dan karena terbatasnya waktu, mereka percaya kepada kami bertiga. Seperti biasa, urusan administrasi ternyata cukup ribet, karena mereka minta permohonan dari universitas dan sebagainya.

Cerita gitu sama ibuku, beliau malah bilang, "Kalau baru tahap pengajuan proposal, gak perlu lah pakai surat dari universitas dulu. Sekarang butuhnya cuma surat perjanjian mitra yang dibuat Bina Amal, untuk dilampirkan di proposal kalian. Baru kalau PKM-nya lolos, kalian minta surat resmi dari Rektorat."

Sementara menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke Bina Amal, kami dipusingkan oleh laporan Putri dan Khusnul bahwa dosen yang mereka minta untuk jadi pembimbing kami tidak bersedia. Mereka menyarankan dosen dari Siskom saja.

Jadilah aku dan dua ikhwan itu terpaku di sudut kampus Siskom usai praktikum, membincangkan perkiraan dosen yang mau menjadi pembimbing kami. Sepengetahuan kami, dosen boleh membimbing maksimal 3 kelompok (belakangan baru tahu, ibuku aja boleh membimbing belasan kelompok), dan kami berspekulasi dosen mana yang belum punya kelompok bimbingan.

Jatuhlah pilihan kami pada dosen waliku, Bu Oky. Taufik kupaksa menghubungi beliau berdasarkan nomor yang ada di phonebook-ku, pakai pulsa Akh Hermawan. Alhamdulillah, beliau bersedia, meski kami meminta hanya dua atau tiga hari sebelum deadline pengumpulan.

[Intermezo bentar, sampai di sini ada kejadian gak jelas yang bikin aku kehilangan muka di depan mereka. Ceritanya, setelah kelegaan mendapatkan dosbing, kami baru menyadari bahwa di kampus tinggal kami bertiga. Mengingat udah mau Maghrib, kami pun berniat pulang. Tapi aku baru nyadar, waktu aku mendatangi mereka tadi, tasku masih ada di kelas tempat praktikum berlangsung. Ternyata saat itu kelasnya udah dikunci. Aku panik, teriak-teriak gak jelas minta bantuan kedua partnerku hampir di semua organisasi itu. Baiknya, mereka mau bantuin, berusaha nelepon "juru kunci" GKB bagian Siskom. Nyaris saja tasku baru bisa diambil keesokan harinya (padahal laptop yang isinya termasuk draft PKM ada di sana), ketika Taufik muncul dari sudut dan teriak, "Ini tasmu bukan?" Wuih, udah mau sujud syukur aja tuh . Sambil menuruni tangga, mereka berdua sempet-sempetnya ngeledekin aku.]

Keesokan sorenya, kami berencana menemui beliau untuk menandatangani proposal. Tapi aku dapat informasi kalau sore itu bapakku juga akan ke Bina Amal menengok adikku. Aku pun memilih ke Bina Amal, mengusahakan surat kesepakatan mitra, sementara aku memaksa Akh Hermawan agar mau ke rumah Bu Oky seorang diri (Taufik ke mana ya, waktu itu?).

Bi idznillah, lobi informal dengan Wakasek Kesiswaan (dengan bantuan bapakku) membuahkan izin pembuatan surat setelah disetujui Kepsek via telepon. TU-nya juga ada, sehingga langsung dibuatkan surat. Tapi, ujian kesabaran masih menanti. TU-nya sendiri bingung mau bikin surat jenis apa, belum segala macam urusan surat-menyurat seperti redaksi surat, tujuan, nama kegiatan, de el el. Rasanya jadi gatel nyerobot keyboard komputer dan nulis surat sendiri. Tapi jelas gak mungkin kulakukan, dan terpaksa cukup puas dengan nggerundel dalam hati, perasaan seumur-umur gw jadi sekretaris juga gak segininya amat masalah isi surat.

Di sisi lain Semarang, Akh Hermawan juga berhasil mendapatkan tanda tangan Bu Oky. Alhamdulillah.

Masalah berikutnya, CV anggota kelompok yang belum lengkap, beserta tanda tangan masing-masing. Meski pulang dari Bina Amal menjelang Isya', aku langsung SMS ke semua anggotaku, minta CV dikirimkan malam itu juga. Untuk tanda tangan, karena Khusnul dan Putri kuliah jam 7, sementara aku gak mungkin mencapai Tembalang jam segitu dari rumah, aku mengirimkan softcopy proposal PKM pada dua ikhwan itu dan meminta salah satu dari mereka yang menemui akhwat Psikologi meminta tanda tangan.

Kenapa terburu-buru?

Yeah, karena hari itu adalah hari terakhir pengumpulan laporan!

Hari itu pun serasa sempit sekali buatku. Proposal belum digandakan, apalagi dijilid. Tanda tangan birokrasi (Kajur dan PD/PR III) belum dapat. Padahal kuliah lumayan padat. Nekat deh bolos kuliah, menggandakan proposal plus surat mitra, lalu minta Taufik berkontribusi pada perjuangan terakhir ini: cari tanda tangan birokrasi, sekaligus mengumpulkan ke Minarik. Belum diizinkan Allah bertemu dengan Kajur sebelum batas waktu pengumpulan yang ditentukan, Allah masih memberikan pertolongannya dengan kesempatan mengumpulkan esok paginya.

Setelah itu, rasanya lega sekali terbebas dari kejaran waktu ini. Tinggal menunggu 2-3 bulan lagi untuk mensyukuri nikmat Allah selanjutnya, entah berupa didanainya PKM kami atau kesempatan untuk mencoba tahun depan.

(Bersambung)

=======================================================

Cuplikan episode 2:

Batre HP-ku sedang low, maka untuk beberapa lama aku matikan. Setelah nyala kembali, SMS-SMS berebut masuk dan minta dibaca duluan. Yang menarik adalah SMS Inung, sekilas sempat kulihat kalimat pertamanya, "Lil, udah lihat pengumuman PKM? Udah keluar lho."

No comments

Powered by Blogger.