Header Ads

Catatan Dua Sisi

Cerita ini dimuat dalam buku
Untuk Ibuku, yang diterbitkan oleh
Rainy Publishing
27 Juni 1995.

Kadang aku takjub dengan semangat Hani kecil untuk bersekolah. Mungkin karena aku sering membawanya ke tempat aku mengajar kursus. Tas kecil yang aku berikan tak pernah lepas dari punggungnya, berisi buku cerita kecil dan crayon warna-warni. Selama aku mengajar, dia sibuk mencorat-coret buku ceritanya itu. Memang sih dia belum bisa membaca lancar apalagi menulis, tapi beberapa huruf sudah bisa dia baca.

Sudah sebulan ini dia merengek minta sekolah. Seminggu lalu aku sudah mencoba mendaftarkannya ke TK Islam terdekat, tapi kepala sekolah meminta untuk menunggu 1 tahun lagi. Aku bisa apa? Ibu kepsek pun mengatakan, hampir semua TK memberlakukan minimal 4 tahun untuk bisa masuk TK, sedangkan bidadariku itu baru 3 tahun. Tapi aku juga tak tega menghalangi keinginan baik Hani kecil.

Yah, maka aku masukkan dia ke TPQ dekat rumah. Meski hanya satu setengah jam kegiatan berlangsung, dia senang sekali. Antusias dia mengikuti apa yang diajarkan Ustadzah... bahkan Ustadzah mengatakan, belum seminggu dia sudah masuk halaman lima Iqro'nya, tidak seperti teman-teman selevelnya yang membutuhkan dua-tiga hari untuk lancar membaca satu halaman saja. Alhamdulillah...


17 Maret 1996.

Barakallah, Bidadariku sayang... Dua hari yang lalu, kau telah menamatkan Iqro'mu. Sepekan lagi kau akan wisuda Iqro' bersama... ah, kau adalah wisudawan termuda yang pernah ada. Semua teman seusiamu belum ada yang menyelesaikan Iqro'nya, sehingga "terpaksa" kau diwisuda bersama santri TPQ yang usianya 4-6 tahun di atasmu.

Barakallah lagi, karena hari ini kau tepat berusia empat tahun. Dan syukur seperti apa lagi yang bisa kuungkapkan atas karunia Allah yang luar biasa ini, kemeriahan syukuran ulang tahunmu dibuka dengan tilawahmu. Di saat kawan-kawanmu merayakan ulang tahun mereka hanya dengan kemeriahan semata, bacaanmu yang pelan namun cukup sempurna untuk anak seusiamu membuatku berdoa, semoga kau benar-benar menjadi salah satu penghuni surga, dan membawa kedua orang tuamu bersamamu di surga-Nya.


1 November 2000.

Masih kurangkah nilai 9 bagi Ibu? Aku sering gak mudeng dengan pelajaran IPA ini, dan nilai 9 itu udah bagus banget buatku. Tapi kok ya dibilang harusnya 100 sih? Nisa yang pinter aja cuma dapat 9,5. Apalagi aku yang cuma ranking 2. Yang lain juga cuma dapet 8 , bahkan banyak juga yang 6.


1 November 2000.

Hasilmu memang luar biasa, Hani... tapi kau kurang bersungguh-sungguh waktu belajar. Kecerdasanmu sebetulnya bisa membuatmu mendapatkan nilai 100, jika kau tidak angot-angotan waktu Ibu ajari semalam. Jikapun kau hanya meraih 80, tapi kau memperlihatkan tekad yang kuat, Ibu tidak marah kok. Semoga dengan teguran Ibu hari ini, kau lebih semangat belajar.


8 Mei 2006.

Alhamdulillah , aku dapat juara II Olimpiade Matematika. Yah, cuma tingkat kota sih, dan gak berkesempatan melaju ke tingkat provinsi. Lagi-lagi dikalahin sama Nisa. Kenapa dari dulu aku selalu saingan sama dia! Coba kalau dia gak diikutkan olimpiade, pasti aku udah dapet HP baru yang Ibu janjikan kalau aku juara I. Sekarang aku cuma dapat... hei! Ternyata Ibu masih mau "melungsurkan" HP jadulnya itu buatku. Yah, meski gak baru, paling gak masih bisa buat SMS-an sama nge-game lah kalau lagi bosen.

Thanks, Mom!


8 Mei 2006.

Aku sudah melihat usaha kerasmu, Sayang... dan untuk mengobati kecewamu yang tidak juara I, kau bisa pakai HP lama Ibu. Bisa saja Ibu berikan HP baru ini, tapi Ibu takut kau akan ngelunjak jika kali ini Ibu izinkan "ingkar janji". Tapi Ibu akan tetap menghargai prestasimu kali ini. Pakai HP itu baik-baik ya... Sebentar lagi kau naik kelas 3 SMP, lalu masuk SMA. Tak terasa... kau sudah dewasa!


10 Mei 2007.

Sering aku pengin SMA di luar kota, boarding school gitu. Aku pengin banget hidup mandiri. Ntar kalau kuliah gimana? Masa sampai sekarang, aku belum dianggap mandiri sama Ibu. Emang sih, secara nilai, aku yakin bisa masuk di SMA negeri favorit di kota ini seperti harapan Ibu... Tapi bosen ah di kota ini terus, masih harus diawasi sama Ibu. Need freedom! Lagian, kalau sekarang gak dilatih, gimana besok aku bisa mandiri di kos waktu kuliah?


11 Mei 2007.

Maaf, Sayang, Ibu belum sanggup berpisah denganmu. Ibu juga menilai kau masih perlu dilatih untuk bisa mandiri. Bukankah cita-citamu kuliah di ITB? Tak akan ada sanak saudara di Bandung. Siapa yang akan membimbingmu di sana, sementara kau belum terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tanpa diminta? Kesibukanmu untuk belajar memang Ibu kagumi, tapi kau jadi lupa mengurus dirimu sendiri. Lagipula, kau belum bisa "berdamai" dengan adikmu. Ada saja yang kalian permasalahkan. Bagaimana kau akan hidup dengan teman-teman serumahmu nantinya?

Biarlah 3 tahumu di SMA menjadi pembelajaran untuk cita-citamu merantau ke luar kota.


31 Januari 2010.

Apakah hanya dengan USM, jalan masuk ke ITB, Sayang? Mahal sekali, 800.000 rupiah hanya untuk pendaftaran. Belum lagi biaya kalau kau sudah diterima di sana. Bagaimana kalau kau mendaftar lewat SNMPTN saja? Kadang hampir saja pertanyaan itu terlontar. Tapi aku tak tega menghalangi mimpimu. Kau sudah berusaha cukup keras, dan tugasku hanyalah memfasilitasi... meski dengan biaya sebanyak itu, sebetulnya kau bisa mendaftar di beberapa ujian masuk universitas lain.

Ya Allah, semoga Kau mampukan aku membiayainya. Hanya ini yang bisa kulakukan untuknya.


1 Februari 2010.

Ibu beneran mengizinkan? Ya Allah, makasih banget... Aku sudah takut Ibu akan menyarankanku ke kampus lain saja dengan biaya pendaftaran ITB semahal ini. Aku juga sudah ngeri membayangkan, dari mana Ibu bisa dapatkan uang sebanyak itu. Aku takut Ibu kecewa padaku yang memaksakan kehendak. Tapi aku ingin sekali masuk STEI ITB. Tapi alhamdulillah... Ibu menyilakanku mendaftar. Sedikit gemetar aku mengisi formulir pendaftaran online... Yah, aku harus bisa diterima lewat jalur ini. Aku tak ingin mengecewakan Ibu.


8 September 2010.

Dua hari lagi Idul Fitri tiba. Sekarang aku sedang persiapan mudik ke Semarang. Tak seperti banyak kawanku yang lain, yang pulang dulu ke rumah orangtuanya sebelum melanjutkan mudik ke kampong halaman orang tua, aku hanya memerlukan "sekali jalan". Tentu saja, karena aku kuliah tidak jauh dengan tempat tinggalku.

Well, akhirnya aku "harus puas" jadi mahasiswa UGM. Meskipun entah berapa puluh ribu orang yang mengincar kampus ini, tapi tak pernah terbayang aku "berakhir" di sini. Aku tak pernah menginginkannya, bukan karena kampus ini tidak baik (siapa pun tahu kan kualitasnya). Tapi HANYA KARENA aku ingin sekolah yang jauuuh dari rumah. Baiklah, kuceritakan padamu semua kisah pendaftaranku pada kampus-kampus nasional.

Kalau orang tua lain bahkan memaksakan jurusan tertentu untuk anaknya, Ibu memang unik. Tidak cukup aku mencoba mendaftar di ITB dan ITS, sesuai keinginanku, Ibu malah sekalian menyuruhku mencoba ambil UM UGM dan SIMAK UI. Walaupun aku sudah menyatakan keberatanku mengikuti jenis ujian masuk lagi, Ibu mendorongku untuk "mencoba peruntungan" di sana. Tentu artinya bukan sekadar gambling atau asal coba-coba, tapi permintaan mendaftar UI itu sepertinya merupakan harapak Ibu agar aku kuliah dekat-dekat saja dari tempat tinggal kami di Sleman ini. Sedangkan UI? Aku malah sama sekali tak pernah terpikir kuliah di sana.

Yeah, akhirnya sehari sebelum pendaftaran UM UGM tutup, aku tergesa melakukan pembayaran dan pendaftaran online. Dan sehari sebelum ujian tertulis dilaksanakan, aku baru nyadar kalau besoknya harus datang ke lokasi ujian. Modal nekat saja lah... toh selama lebih dari sebulan ini aku belajar jungkir balik untuk bisa tembus USM ITB.

Berbulan-bulan berkutat pada segala jenis seleksi mandiri perguruan tinggi, hasilnya mencengangkan. UGM, yang aku tak pernah meniatkan apalagi belajar sungguh-sungguh untuk UM, ternyata aku lolos di pilihan pertama: Ilmu Komputer. ITS sama sekali tak lolos. ITB... yah, harapan "terakhirku" terkabul. Lolos pilihan 3 yang sebetulnya jauh dari minatku. UI masuk, tapi pada pilihan keempat: Kelas Paralel Ilmu Komunikasi. Yah, pilihan ini aku ambil cuma ingin membuktikan bahwa aku bisa lolos UI dan memenuhi harapan Ibu... tapi mahalnya itu loh...

Bersyukur pula punya Ibu yang luar biasa, aku masih diizinkan mengikuti SNMPTN untuk mencoba masuk ITB. Bahkan beliau rela mengantarkanku ke Bandung untuk mengikuti ujian SNMPTN, karena peraturan yang mensyaratkan mengambil wilayah ujian sesuai dengan kampus yang dipilih. Tapi ternyata takdirku adalah kuliah tak jauh dari rumah.

Mungkin ada untungnya juga... Aku tetap bisa birrul walidain, hal yang sering kudengar diinginkan oleh banyak seniorku. Aku jadi punya kesempatan untuk lebih sering bertemu dengan Ibu tercinta, kan? Begitu kata Kakak Pementorku sejak SMA.


10 September 2010.

Di hari yang fitri ini, aku masih ingin mengungkapkan syukur pada-Mu, Ya Rabb... meski aku merasakan kekecewaan Hani karena tidak terpenuhi harapannya untuk kuliah di ITB, sedikit kelegaan Kauberikan dengan adanya Hani di dekatku. Aku tak perlu mencemaskannya lagi.

Tak jadi soal, di mana pun kau melanjutkan studi, Sayang... Yang penting, tetap kepakkan sayapmu... Bukankah kau masih punya kesempatan untuk S2 di luar negeri seperti harapanmu?

No comments

Powered by Blogger.