Munas VI FLP: Tidak Sesuai Ekspektasi
Siang ini, saya memandangi kalender dengan terkejut. Ternyata sudah tepat satu tahun berlalu sejak penutupan Munas ke-6 FLP di Surabaya. Saya jadi ingat target pribadi yang belum tertunaikan: menuliskan cerita tentang Munas.
Saya datang dalam kondisi lelah fisik dan emosional oleh pekerjaan kantor yang menumpuk. Lembur-lembur sengaja saya lakukan dengan harapan mendapatkan uang saku tambahan untuk berangkat mengikuti Munas. Jadi, motivasi datang ke Munas adalah untuk healing, hehe. Diskusi dan berdebat bersama para pegiat literasi, terutama para senior FLP, sepertinya momen yang cocok untuk melepaskan segala penat di kepala. :)
Ditempatkan (atau minta ditempatkan) di komisi A yang membahas AD/ART, saya mendengar banyak "cerita horor" dari para mantan peserta komisi ini. Konon, komisi inilah yang pembahasannya paling alot dan menyita waktu. Lucunya, justru itulah yang saya nantikan, setelah hampir sepuluh tahun tidak ikut sidang organisasi.
Sayang, harapan tak sesuai kenyataan. Baru LPJ Dewan Pertimbangan (DP) saja, saya sudah kicep. Gimana enggak, yang menyampaikan LPJ DP adalah Kang Abik ... dengan pembawaan yang kalem dan berwibawa. Walaupun beberapa kali diskusi lumayan seru dengan sebagian anggota DP secara personal, tapi melihat laporan yang tanpa cacat itu, saya bisa ngomong apa? Sungkan rasanya.
Hanya satu pertanyaan yang terpikir oleh saya, demi bisa aktif berpartisipasi dalam forum tertinggi organisasi ini.
"Apa yang membedakan DP periode ini dengan periode sebelumnya?"
Mikrofon pertama kali diserahkan pada Bu Maimon Herawati. Jawaban beliau di luar dugaan.
"Sebaiknya tidak perlu membanding-bandingkan."
Saya otomatis tertawa. Jawaban santai itu langsung bikin mental down, hahaha.
Alhasil, giliran LPJ Badan Pengurus Pusat, saya bungkam seribu bahasa. Eh, tapi kali ini lebih karena kurangnya waktu untuk membaca laporan lengkap, sih, jadi belum menemukan celah untuk bertanya. Lagipula, sudah ada peserta lain yang mengkritisi laporan keuangan Bendahara, dan itu berlangsung lama.
Yang ditunggu-tunggu, tentu saja sidang komisi yang berlangsung malamnya. Dengan adanya peringatan bahwa ruangan hanya boleh dipakai sampai maksimal jam 9 malam, komisi A sudah mulai berdiskusi melalui grup WhatsApp sejak beberapa pekan sebelum hari H.
Berdasarkan pengalaman di organisasi sebelumnya, sidang bisa berlangsung lama karena hal-hal sepele (tapi penting) seperti ejaan dan tanda baca. Karenanya, ketika sidang informal via grup WhatsApp dibuka, hal pertama yang saya perubahan soal EYD ini. Selain saya, di grup juga aktif Bu Intan Savitri, yang mengusulkan banyak tentang tata laksana organisasi. Begitu juga dengan saran-saran lainnya, semua sudah direkap, sehingga sidang pada hari H lebih banyak membahas sisa-sisa masukan yang belum disepakati secara bulat pada diskusi di grup.
Mungkin karena lokasi kami lumayan terpencil dari gedung utama, hanya sekali kami mendapat pengingat bahwa waktu penggunaan ruang sudah habis. Namun, prinsip kami, selama belum diusir, diskusi tetap jalan terus, hehe.
Sidang Komisi A berlangsung sampai tengah malam. Menurut komentar panitia atau peserta lain, ini sidang tercepat yang pernah dijalani Komisi A, soalnya biasanya bisa sampai subuh. Hoho, ada gunanya juga diskusi panjang lebar di WhatsApp sebelumnya.
Hari kedua, saya sedikit terlambat masuk ke ruang sidang pleno. Akibatnya, saya dapat kursi di paling belakang. Uh, enggak nyaman banget rasanya. Seolah ketinggalan banyak perdebatan yang berlangsung. Tidak mengherankan bahwa yang angkat bicara sebetulnya, ya, hanya orang-orang itu saja. Sebagian besar adalah pengurus BPP demisioner dan DP demisioner, hanya beberapa dari utusan wilayah atau cabang.
Setelah sesi itu, saya berusaha makan secepat mungkin (kadang malah skip makan, saking tegangnya) untuk mencari kursi di bagian yang cukup depan. Dengan begini, saya tidak harus menunggu mikrofon diantarkan oleh panitia supaya suara saya terdengar. Cukup berbicara dengan volume sedikit lebih keras (setelan suara saya aslinya memang keras, haha), presidium menangkap komentar saya.
Misalnya saja, ketika pemilihan anggota DP. Menurut AD/ART yang baru saja disahkan, pendiri dan para mantan ketua hanya bisa menolak menjadi anggota DP jika menyatakan keberatan secara langsung di tengah forum sidang munas. Alih-alih menunggu subjek yang dimaksud menyampaikan penolakannya, saya menceletuk, "Diminta maju saja semuanya!"
Dari ucapan spontan itu, lahirlah sebuah momen ikonik, ketika hampir semua mantan ketua dan pendiri FLP berdiri berjajar di hadapan forum. Kamera-kamera tampak berebut mengabadikan citra tersebut.
Satu hal yang menyentuh hati saya adalah, ketika tiba saatnya pemilihan ketua DP, mereka mengajukan diri keluar. Alasannya, kira-kira, bahwa mereka semua sama saja, siapa pun yang terpilih nanti, sehingga tidak mau mengintervensi jalannya pemilihan. Andai saja semua pemimpin di negeri ini seikhlas itu, niscaya negeri ini akan ada di tangan pemimpin yang adil dan dicintai sepenuh hati.
Tapi, setelah semua diskusi alot dan seru dari pagi sampai malam saat pemilihan ketua DP, suasana menjadi antiklimaks ketika pemilihan ketua. Beberapa nama memang diusulkan oleh para perwakilan wilayah, tapi hampir dipastikan semua mengerucut pada satu nama.
Tanpa pertentangan, tanpa suara penolakan. Tanpa pemyampaian visi misi.
Well, ini kali kedua saya ikut munas FLP, kali kedua pula ketua terpilih secara aklamasi.
Dan entah kenapa... tiba-tiba saya menangis ketika Mbak Nafi’ah al-Ma’rab ditetapkan jadi Ketua Umum FLP. Seolah saya sedang ikut merasakan beratnya amanah yang sedang diletakkan ke pundaknya.
Sisa malam itu berlangsung seperti euforia. Peserta saling meminta foto satu sama lain, termasuk foto bareng ketua yang baru terpilih. Meskipun sedikit melewati jam 9 malam, sepertinya tidak ada yang menghentikan perayaan tersebut.
Setelah yakin saya tidak ketinggalan apa-apa lagi, saya memilih undur diri. Capek, euy. Orang introver ini sedang membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaganya.
Ngomong-ngomong soal introver, saya pengin sedikit cerita.
Saya datang sebagai perwakilan wilayah bersama seorang yang sering disebut-sebut sebagai partner di wilayah: Inel. Berkebalikan dengan saya, dia tampaknya ekstrover habis. Begitu tiba di tempat acara, dia langsung beredar menyapa semua orang yang dikenalnya, apalagi Jawa Timur adalah tempat asalnya. Jadi, saya lebih banyak ke mana-mana sendirian.
Itu bukan masalah buat saya. Saya toh sengaja mencari tempat yang agak jauh dari keramaian saat makan, sekadar menenangkan kepala yang tak henti berpikir. Saya pun bisa berinteraksi dengan beberapa peserta lain, termasuk para anggota DP (enggak tergantung sama Inel, wkwk). Yang jelas, akhirnya saya malah lebih sering duduk di ruang sidang bersama Mbak Rini, yang mewakili FLP Solo. Sebagai kerajaan tetangga (ciee...) yang sama-sama keturunan Mataram Islam, ada banyak hal yang menjadi bahan kami bertukar pikiran.
Hari terakhir, tidak ada sidang yang dijalankan. Hanya penutupan berupa beberapa hiburan, termasuk dari Bang Boim Lebon.
Secara keseluruhan, dari dua kehadiran saya, bisa saya simpulkan sidang FLP itu relatif tenang. Enggak ada gelut-gelutan, apalagi lempar kursi. Padahal, kedatangan saya ke sini adalah untuk "gelut", haha.
Memang begini, ya, kalau orang yang biasa bermain kata bertemu dalam satu forum. Penuh diksi. Hehe.
Masihkah saya diizinkan Allah untuk menghadiri munas berikutnya sebagai peserta sidang?
![]() |
| Foto: Dokumentasi panitia |



No comments