Sunday, December 30, 2012

Aku Anak Rohis, Aku Seorang ROKER [Part 1]

Menjelang akhir tahun pertamaku di kampus, pernah ada yang berkomentar, "Sempet kaget lihat kamu milih sospol, melihat data SMA-mu yang organisasinya Rohis banget."

Hmm... emang gak boleh, gitu?

Waktu masih sekolah dulu, aku pernah diceritain Ibu tentang dakwah kampus, "Kamu boleh berkutat di BEM, Senat, debat, karya ilmiah, atau lembaga mahasiswa mana pun. Yang penting kamu masih Rohis, masih ngaji."

Dan mengingat perjuangan di Rohis melukiskan banyak warna, menorehkan banyak "darah", jadi terpikir untuk mendokumentasikannya melalui sebuah tulisan.


ROHIS AT TARBIYYAH, SMANSANGAR

Aku mengenal kata Rohis sudah sejak SD, terutama dari buku Serial Akta karya Jazimah Al Muhyi. Waktu sempat menjadi bagian dari siswa SMP 1 Ungaran, organisasi yang pertama kali ingin aku masuki adalah Rohis. Sayang, setengah bulan berjalan, aku nggak betah berada di SMP favorit se-Kabupaten Semarang itu. Pindah ke SMP pelosok yang baru berdiri, sama sekali tak ada organisasi siswa di sana. Tapi sebagai angkatan pertama SMP Islam Terpadu pertama (juga) se-Kabupaten Semarang tersebut, aku cukup dekat dengan guru-guru yang sebagian besar aktivis kampus. Kedekatan itu bersenyawa dengan ghirah yang kudapat dari halaqah wajib sekolah, dari keseharian di sekolah, dari agenda-agenda Iqro' Club (kalau bukan karena pengurusnya adalah guru-guruku, mungkin aku males ikutan acara kayak gini) yang mempertemukanku dengan Rohisers SMA 1 Ungaran, membulatkan tekadku untuk ikut Rohis kalau sudah waktu SMA.

Pada masa MOS di SMA 1 Ungaran, hari pertama usai shalat Dhuhur di Masjid Istiqomah, aku menuruni tangga dari lantai dua. Di tengah tangga, aku dicegat salah seorang siswi berjilbab, memintaku kembali naik ke lantai 3, karena ada mentoring di sana. Sebetulnya situasi kurang kondusif karena siswa muslimah sekelas hanya dijadikan satu lingkaran (lingkaran bertumpuk) yang dipandu dua pementor (Mbak Lilik dan Mbak Ima), dan di sekelilingnya kelas-kelas lain juga membentuk lingkaran yang sama. Suara-suara pementor yang memberi materi dan senior putri lain yang mengondisikan siswa pasti akan membuatku tidak menangkap materi yang diberikan, seandainya aku tidak duduk di dekat pementor kelasku.

Usai mentoring, salah satu pementorku mengajakku bergabung di Rohis. Waktu itu aku menjawab, "Iya, Mbak, nanti tak ajak juga teman-teman yang pakai jilbab buat ikut Rohis."

Dijawabnya, "Gak harus yang pakai jilbab kok, Dik. Yang nggak pakai juga boleh gabung, kok."

Saat itu aku merasa aneh aja, masa ikut Rohis nggak pakai jilbab sih? Jawaban untuk kebingungan ini, nanti saja ya...

Selama tiga hari MOS, mentoring itu rutin berjalan setelah Dhuhur. Meskipun aku tak tahu persis, hari ketiga masih ada mentoring atau tidak, soalnya aku memilih kabur ke SMP-ku lantaran unjuk rasa-ku atas perintah-perintah aneh senior tidak digubris oleh mereka (ternyata bakat orasi itu udah sejak SMA, haha), dan baru kembali ke SMA jam setengah 2. Begitu MOS berakhir, tak pernah lagi ada mentoring untuk siswa baru.

Agenda Rohis yang kuikuti selanjutnya... kajian Annisa. Selagi ikhwan shalat Jum'at, pengurus akhwat mengajak siswa-siswa baru ke mushola. Cukup banyak juga teman-teman sekelasku yang ikut. Di akhir kajian, para pengurus akhwat itu menjelaskan tentang Rohis lebih dalam dibandingkan presentasi mereka saat MOS dulu, begitu pula dengan departemen-departemen yang ada. Di lembar presensi juga dicantumkan kolom "Departemen yang diminati". Wah, aku masih nggak tahu apa aja job desc tiap departemen. Ada Departemen Dakwah, Pengkaderan, Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), Takmir Mushola, Perpustakaan, Seni dan Riyadhoh, Kewirausahaan... aduh, bingung milih yang mana.

Tapi ternyata masih ada departemen kedelapan: Pers. Hatiku mulai condong ke departemen ini (cieee...). Secara garis besar, aku menangkap penjelasan dari Rohisers, Dakwah itu yang mengadakan kajian, Pengkaderan itu yang mengajak orang masuk Rohis, Takmir Mushola yang ngurusin mushola... tapi aku tak tertarik buat fokus mengurus kajian dibandingkan dengan probabilitas untuk dakwah melalui pena. Aku kukuh memilih Departemen Pers, karena aku suka menulis, dan berharap itu yang akan mengajak teman-teman tertarik dengan keindahan Islam.

* * *

Suatu hari, usai shalat ashar dengan waktu istirahat cuma 20 menit (selama 1 semester, kelas X masuk siang), Mbak Heni dan Mbak Tika (Wakil Ketua I dan II Rohis) menculikku ke lab Fisika dan mengajakku bicara enam mata. Hampir to the point, mereka memintaku menjadi salah satu kandidat wakil ketua pada pergantian pengurus akhir pekan itu. Beberapa saat aku sempat shock, "Mbak, aku kan masih kelas X. Emang nggak ada mbak-mbak yang lain?"

"Pasti ada, lah," jawab salah satu dari keduanya. "Dik Lila kan cuma salah satu aja."

"Mbak, kasih waktu buat mikir, ya..." pintaku. Saat itu aku tak sabar untuk menghubungi murobbiyahku.

"Besok bisa? Tapi jangan kasih tahu teman-teman yang lain, ya."

Murobbiyahku menganjurkanku untuk menerima, sebagai pembelajaran buatku dan untuk melebarkan sayap (so sweet...). Setelah menjawab "ya" pada kedua wakil ketua itu, mereka memintaku membuat visi-misi untuk dipresentasikan saat pemilihan akhir pekan itu. Waduh, kurang dari seminggu suruh bikin visi-misi buat setahun? Siapa yang nyuruh, kenapa malah aku yang suruh bikin visi-misi?

Hari pertama kegiatan reshuffle (materi-materi dan mabit), aku sibuk memikirkan visi-misi untuk esok hari. Sampai berbaris bersama kandidat lain di depan para peserta pun, aku masih belum menemukan ide apa yang harus aku sampaikan. Kandidat ketua yang semuanya ikhwan dengan lancarnya menyebutkan apa yang mereka rencanakan jika terpilih jadi ketua. Begitu pula tiga kandidat wakil ketua yang semuanya akhwat: Mbak Anisa, Mbak Lilik pementor-tiga-hariku, dan Mbak Deny yang baru aku kenal saat itu.

Tiba giliranku. Sejak semalam, cuma satu yang terus menerus kepikiran untuk aku realisasikan jika aku yang menjadi wakil ketua: mentoring. Jadi beberapa poin yang aku sampaikan, semuanya berujung pada mentoring. Tanpa terduga, ternyata justru satu kata itulah yang diperdebatkan cukup lama. Sebagian senior ikhwan, termasuk para kandidat ketua, menolak gagasan tersebut, sementara kandidat akhwat membelaku. Aku hanya diam menyimak adu argumen antarkandidat itu, yang baru berakhir setelah dihentikan oleh moderator karena situasi memanas.

Dalam "pengasingan" sementara forum bermusyawarah menentukan pilihan, aku sempat ketar-ketir. Kalau aku yang terpilih gimana? Kan aku belum kenal medan, lagipula masa harus "membawahi" senior-senior sendiri? Aku masih ingin berkreasi di departemen Pers! Mbak Lilik malah dengan semangatnya berkata, "Anisa, Deny, Lila... Kalau kalian jadi waketu, aku di Bendahara aja, ya..."

Kali ini aku selamat. Mbak Anisa yang terpilih untuk menjadi waketu-nya Mas Fajar. Tidak seperti periode sebelumnya yang memiliki 2 wakil ketua, periode ini hanya memiliki 1 wakil yang sekaligus sebagai koordinator akhwat (atau lebih keren: Ketua Annisa).

LPJ pengurus lama sekaligus sertijab dan rapat kerja dilaksanakan satu minggu kemudian. Di ruang kelas tempat rapat kerja, kedua pimpinan Rohis itu menuliskan struktur organisasi periode 2007-2008. Lagi-lagi aku dapat kejutan: aku mendapati diriku menjadi koordinator Departemen Pers. Melihat nama-nama lain yang ditempatkan di departemen itu, aku baru menyadari bahwa Pers merupakan satu-satunya departemen yang tidak memiliki anggota kelas XI. Jadi, aku yang jadi tumbal, nih? batinku.

Sewaktu tiap departemen melingkar membuat program kerja, aku kebingungan menatap anggota departemen yang memfokuskan pandangan padaku. Grogi aku membuka forum itu, dan sambil bertanya pada Mbak Anisa yang berkeliling dari meja ke meja memantau pengurusnya, "Mbak, departemen Pers itu apa aja sih program kerjanya?"

Katanya sih, ada bikin mading, nempel hadits di kelas-kelas, dan yang sejenis itu. Masih dalam proses adaptasi (gw belum pernah jadi ketua selain ketua kelas 1-3 SD yang kerjaannya cuma mimpin doa, cuy!), aku merasa beruntung ketika guru Agama yang juga pembina Rohis datang, menyampaikan sambutannya. Yang masih aku ingat sih, "Raker itu singkatan dari 'Rapat Kerja', jangan sampai jadi 'Ora Kerja'."

Tapi karena sambutannya itu lama banget, raker dihentikan setelah sambutan. Katanya sih mau disambung lain waktu, tapi ternyata tak ada yang namanya lain waktu itu.

* * *

Setelah menanyakan pada koordinator sebelumnya, dan mengumpulkan data anggota departemenku, aku mengundang mereka dalam rapat departemen. Udah bikin undangan dari kertas HVS dibagi 4, sampai pada waktu yang ditentukan ternyata gak pada datang. Saat itu aku merasa jadi koordinator yang gagal, karena amanah dari ketua, departemen harus mengadakan rapat dalam jangka waktu sekian hari. (Belakangan baru tahu, kalau ternyata departemen lain bahkan belum mengagendakan rapat.) Bahkan selanjutnya, sama sekali gak ada yang namanya rapat departemen! Adanya rapat seluruh anggota, yang setelah di kampus, aku mengenalnya sebagai "rapat pleno".

Kegiatan pun sebetulnya standar. Nggak jauh-jauh dari segala bentuk kajian: dari kajian Annisa, sampai Kulahap alias Kuliah Ahad Pagi yang diwajibkan untuk seluruh mahasiswa muslim kelas X.

Tapi di sela-sela kegiatan monoton itu, ternyata ada kejutan menarik yang membuka pandangan kami pada Rohis yang ada di SMA lain, khususnya di kota Semarang.

Bermula dari Training Jurnalistik yang diadakan Iqro' Club Kabupaten Semarang di SMA-ku. Salah satu pembicara, Pak Andi Maipa, menanyakan tentang media di SMA masing-masing, dari mading, buletin, sampai majalah. Tentu saja teman sesekolahku memandangku, mentang-mentang koordinator Pers-nya aku. Mengetahui semua media itu gak jalan, Pak Andi Maipa lantas menugaskan setiap sekolah wajib membuat buletin sekolah, dan akan dipantau kemudian hari. Dan bukan sekadar gertak sambal, waktu follow up seminggu kemudian, beliau menanyakan progres tiap sekolah. Sembari itu, beliau juga promosi Students StarCamp yang diadakan Iqro' Club Kota Semarang.

Mbak Lilik langsung tertarik dengan agenda StarCamp. Dialah yang paling semangat membentuk delegasi dari SMA, melobi guru, dan bersama denganku menghadiri technical meeting di sekretariatnya di daerah... Sampangan, kalau gak salah. Niat awalnya, kami membentuk 3 kelompok: 2 kelompok akhwat, 1 kelompok ikhwan. Ternyata pihak guru hanya mengizinkan 2 kelompok yang berangkat. Karena memang belum ada persiapan, 1 kelompok ikhwan itu merelakan akhwat semua yang berangkat. Dan memang, akhwat lah yang memang paling semangat berangkat.

So, inilah delegasi dari Rohis At Tarbiyah SMANSA:

Kelompok 1 (sesuai undian hari H, diberi nama kelompok Husaibah--harusnya Nusaibah, tapi mungkin tulisannya kurang jelas, jadi mereka membaca N jadi H)
  1. Mb Lilik (Tim Lomba Mading)
  2. Hanum (Tim Lomba Mading)
  3. Mb Anisa (Tim LKTR)
  4. Mb Vita (Tim LKTR)
  5. Mb Yessi (Tim LCC)
  6. Iip (Tim LCC) Tari
  7. (Tim LCC)

Kelompok 2 (sesuai undian, namanya Hajar)
  1. Mb Deny (Lomba Dai)
  2. Mb Fida (Tim LCC)
  3. Mb Nafiah (Tim LCC)
  4. Lila (Tim LCC)
  5. Anin (Tim Nasyid)
  6. Cintamy (Tim Nasyid)
  7. Widi (Tim Nasyid)
  8. Suryawidi Candra (Tim Nasyid)

Berangkatlah kami berlima belas pakai pickup. Udah kayak orang ilang gitu. Sampai di tempat, sekolah Nurul Islam Mijen Semarang, ternyata delegasi lain datang menggunakan bus!

Minder? Aku sih sedikit. Gak tau yang lain. Tapi kami pede-pede aja tuh. Bahkan saking pedenya, SMA kami (khususnya kelompokku) dikenal sebagai peserta terheboh. Waktu haflah malam hari, tim nasyid kami mengejutkan peserta, bahkan kami sendiri, dengan remix beberapa nasyid yang dikompilasi jadi sebuah lagu. Belum lagi kostum mereka ternyata pakai sarung sebagai ganti rok. Mentang-mentang di ruangan itu hanya ada akhwat, tim nasyid kami heboh sendiri di depan, seluruh delegasi sekolahku ikut-ikutan heboh mengiringi nasyid mereka, sedangkan peserta lain duduk dengan manis.

Waktu outbond keesokan harinya, yel-yel kami lebih sering gak jelas, dan kadang hanya bisa dimengerti oleh anak-anak Smansangar. Teriakan-teriakan kami pun, aku menyadari, sering di luar batas kewajaran seorang akhwat. Tapi waktu itu aku menghibur diri, toh ikhwan juga outbond di tempat lain.

Di sela-sela kehebohan itu, tetap saja rasa minderku belum hilang. Tampang peserta lain, khususnya yang dari Semarang, benar-benar aktivis tulen. Dari gaya berpakaian, sikap terhadap lawan jenis, yel-yel yang isinya nasyid semua, dan semacam itulah. Waktu final LCC pun terlihat sejauh mana pengetahuan mereka. Jauh beda dengan kedua tim LCC kami, yang waktu penyisihan aja justru kepikiran hal-hal konyol buat menjawab soal. Misalnya nih, soal berbunyi, "Minuman keras yang tidak haram adalah..." Maka tim Husaibah menjawab, "Es batu!" (Untung soal tulis, bayangkan kalau itu soal lisan!)

Tibalah pengumuman pemenang lomba. Tim LKTI kami juara 2, Mb Deny juara 3 lomba Dai, dan tim nasyid kami meraih juara 1 haflah. Waktu pengumuman pemenang kebersihan tenda... "Juara 3 akhwat... kelompok Hajar!" Sesaat hening. Kok tumben sih gak ada yang bersorak? Baru beberapa detik kemudian kami menyadari, Hajar itu nama kelompok kami! Sorakan yang terlambat. Haha... (perasaan berantakan, kok bisa juara 3? Tenda lain lebih berantakan kali, ya?) Tapi lomba sesungguhnya hanya LKTI, Dai, Mading, dan LCC, jadi 4 lomba itu saja yang dihitung untuk juara umum.

Terharu, saat upacara bendera Senin pagi, Wakasek Kesiswaan mengumumkan, "Kalau Tonti atau PMR sudah menjuarai lomba, Rohis ternyata nggak mau kalah!" Dan diumumkanlah hasil lomba StarCamp itu di hadapan hampir 1000 siswa SMA 1 Ungaran. Betul sekali, Rohis tak mau kalah untuk menorehkan prestasi. Itulah pertama kalinya personil Rohis maju atas nama Rohis, bukan karena memenangkan lomba lain.

Dari acara StarCamp pula, Rohis kami mengenal istilah: ROKER alias Rohis Keren. Nama ini yang selanjutnya kami sandang dengan bangga di setiap agenda.

Usai StarCamp, aku mengundang anggota Departemen Pers untuk rapat di rumahku. Setidaknya kali ini dua akhwat datang: Dika dan Dina. Dan walaupun lebih banyak ketidakjelasan yang terjadi, pertemuan hari itu menghasilkan sebuah keputusan: nama buletin kami adalah BuRoQ (singkatan mekso dari Buletin Rohis Q-ta).

Seminggu bikin buletin sendirian, akhirnya aku dan Mbak Lilik turun lagi ke Semarang buat ambil sertifikat StarCamp sekaligus "asistensi" buletin ke Pak Andi Maipa. Karena masih amatiran, aku membuatnya pakai MS Publisher (sesuai saran Pak Andi sendiri waktu training jurnalistik). Sampai di sekretariat, ternyata dirombak habis-habisan sama beliau, bahkan bisa dibilang dibuatin ulang. Dari MS Publisher dipindah pakai Corel (kalau gak salah ingat sih, waktu itu aku belum ngerti editor macam itu, tapi kalau gak salah aku sempat lihat Photoshop juga buat edit foto narasumber). Desain pun berubah total. Bahkan tagline buletin, belakangan aku menyadari, diambilkan dari tagline-nya Rohis SMA 2 Semarang. Diakui, bagus juga sih. Hehe...

* * *

Tahun ajaran baru tiba. Agenda terdekat adalah peringatan Isra' Mi'raj. Atas inisiatif Mbak Lilik, kami menghadirkan Pak Andi Maipa sebagai pembicara. Sempat khawatir dengan reaksi pembina Rohis yang amat sangat anti dengan PKS dan segala variannya (tarbiyah, IM, dan sebagainya, padahal dari alasan yang disampaikan, sepertinya yang beliau maksud itu harokah lain), tapi ternyata beliau justru terkesan banget dengan gaya penyampaian Pak Andi Maipa yang memang seorang trainer. Apalagi pada saat pembukaan, panitia menampilkan tim nasyid akhwat yang dulu menang StarCamp. Komentar Pak Andi Maipa, "Baru kali ini saya tahu nasyid akhwat."

Aku tersenyum saja mendengar komentar itu. Lahan dakwah kami beda jauh, Pak, dengan lahan di Semarang, jawabku dalam hati.

Terlepas dari berbagai kekurangan (seperti aula yang penuh sesak karena pihak guru mengizinkan agenda ini dengan syarat diadakan pada hari aktif dan mewajibkan seluruh siswa muslim menghadirinya), bisa dibilang agenda kali ini adalah agenda terbesar dan terbaik yang pernah diadakan Rohis At Tarbiyah sejak aku terdaftar sebagai siswa SMA 1 Ungaran.

* * *

( ... bersambung ... )

Newer Post Older Post Home

0 comments:

Post a Comment